
Bebaskan Baitul Maqdis, dengan langkah strategis!
Oleh : Maryam Muthmainnah
Alhamdulillah, segala pujian yang melimpah, indah dan berkah hanya untuk Allah semata. Shalawat dan salam tercurah kepada teladan terbaik sepanjang masa nabi Muhammad صلّى الله عليه و سلّم.
Keadaan Umat Islam dulu dan sekarang saat Baitul Maqdis terjajah
Profesor Abdullah Al Fatah El Awaisi meneliti Baitul Maqdis selama lebih dari 30 tahun. Diambil dari ringkasan materi Salahahudin Camp 2025, beliau memberikan pertanyaan kepada peserta untuk merefleksikan diri. “Mengapa saat ini sudah 108 tahun lebih Palestina belum kunjung merdeka, sedangkan dahulu pasukan Salahuddin dengan seizin Allah bisa membebaskan dalam kurun waktu 88 tahun” . Apa problem dari umat Islam saat ini?...
Mari kita kembali ke abad ke-11 tahun 1099, saat pasukan Salib menjajah Baitul Maqdis, kondisi umat Islam saat itu keadaannya lebih buruk bila dibandingkan dengan kondisi umat Islam saat ini. Hal yang dapat kita pelajari adalah bila saat itu umat Islam bisa bangkit dari keterpurukannya maka sekarangpun insyaAllah kita bisa.
Kondisi umat Islam saat itu digambarkan oleh Dr. Yusuf Al-Qardhawi (dalam buku Distorsi Sejarah) adalah sebagai berikut : Ketika para salibis datang, umat Islam sedang ada dalam terpecah belah dan lemah. Para pemimpin sibuk dengan hawa nafsu syahwat, satu sama lain saling berselisih. Rakyat sibuk mencari sesuap roti, lupa terhadap kejadian di sekitarnya. Ulama sibuk dengan buku, halaqah, dan wakaf, tidak tahu terhadap peristiwa yang terjadi di sekitar mereka. Sedangkan sebagian orang lagi sibuk dengan dirinya sendiri agar selamat dari api neraka, gelisah untuk memperbaiki hati, membersihkan diri, tenggelam dalam dzikir kepada Tuhan, tetapi lupa terhadap kerusakan di sekitar mereka.
Digambarkan pula oleh Dr. Hassan Elwan, saat itu pemimpin wilayah lebih mengutamakan kekuasaannnya atau jabatannya daripada menolong saudara muslimnya sendiri. Pada saat pasukan Salibis hendak ke selatan ke arah Baitul Maqdis. Kota-kota yang berada di sepanjang sisi Palestina yakni kota Tripoli, Beirut, Acre dan Saida sangat ketakutan dengan kekejaman pasukan Salibis. Semua penguasa kota-kota tersebut mempersilahkan Pasukan Salib melewati kota-kota mereka. Bahkan mereka mengirimkan pemandu jalan, makanan, air dan sebagian dari mereka mengirimkan anggur atau arak. Seakan-akan para penguasa berkata, asalkan kami berada dalam posisi kami atau kekuasaan kami tidak lepas dari tangan kami, semua baik-baik saja. Baitul Maqdis yang pasukan Salibis inginkan bukan, silahkan disana jalannya.
Saat itu apa yang para ulama lakukan? Ulama saat itu terbagi dua peran. Ada ulama yang fokus untuk menyelesaikan permasalahan di saat itu juga dan ada ulama yang menyelesaikan dalam jangka panjang. Ulama yang menyelesaikan permasalahan dalam jangka panjang memikirkan, kenapa umat Islam saat itu terpecah belah, mereka tidak mau berjihad, lari dari medan perang, ummat saat itu terkena penyakit cinta dunia, bukan hanya menginginkan materi tapi juga jabatan dan status. Salah satu Ulama yang banyak berkontribusi dalam meluruskan pemikiran umat islam yang salah saat itu adalah Imam Ghazali dengan bukunya Ihya Ulummudin (إحياء علوم الدين).
Lalu bagaimana dengan kondisi umat saat ini? Apa solusi untuk umat saat ini?.
- Keadaan umat Islam saat ini hampir sama dengan keadaan saat lalu, umat Islam secara keseluruhan jauh dari Islam yang sebenarnya. Penjajahan pada dunia Islam memberi dampak mengakarnya dengan kuat faham sekulerisme, liberalisme dan materialisme pada tubuh kaum Muslimin.
- Bahkan sebelum terjadinya penjajahan fisik ada bencana keilmuan berupa masuknya pemikiran-pemikiran barat ke tubuh kaum Muslimin. Tanpa kita sadari penjajahan pemikiran berlangsung lebih dahulu atau lebih awal sebelum penjajahan fisik.
Hal tersebut dikuatkan dengan contoh peristiwa sebagai berikut:
Ketika kota Baitul Maqdis dijajah oleh Inggris tahun 1917 M surat kabar mingguan al-Kawakib di Kairo ( yang dipimpin oleh Syaikh Al-Azhari Muhammad al-Qalqili dan diterbitkan ) menggambarkan Jendral Allenby memasuki kota Baitul Maqdis dengan penggambaran sebagai berikut:
“Tidak ada satu pun penakluk yang masuk kota tersebut yang mirip dengan sepanjang sejarah, kecuali masuknya Umar bin Khattab yang datang dengan penuh toleransi agama”
Hal yang menyesakkan dada adalah penjajah disamakan dengan Sahabat terbaik Nabi Muhammad.
Hal yang menyedihkan juga orang-orang keluar menyoraki “Pahlawan kemerdekaan dari Inggris tersebut”. Begitupun juga seorang mufti Al Quds bernama Kamil al-Huseini, ikut menyambut Jendral Allenby. Penyair Iskandar al-Khuri dari Bayt Jala, bahkan melantunkan sebuah qasidah penyambutan penjajah Inggris.
بَني التَّايْمزْ قَدْ فُزْتُمْ وَ بِالإنْقاذِ جِىٔتُمْ
بِلادَ القُدْسِ شَرّفْتُمْ فَأَهْلاً أَيْنَمَا بِتُّمْ
Bani Thames (nama Sungai di London) kalian telah menang
Kalian datang membawa keselamatan
Negeri Al Quds telah kalian muliakan
Selamat datang dimanapun kalian tinggal.
Mufti Kamil al Huseini juga ikut serta dalam peletakan batu pertama Universitas Ibrani pada tanggal 24/7/1917, dimana universitas tersebut diresmikan pada tanggal 1/4/1925 dengan dihadiri oleh Balfour dan Chaim Weizmann.
Pembebasan Baitul Maqdis dengan menguatkan fondasi keilmuan
Sebelum peristiwa Nakba 1948, sudah ada bencana keilmuan berupa penjajahan pemikiran. Penjajahan pemikiran atau non fisik harus dilawan dengan non fisik juga. Dengan kata lain obatnya adalah ilmu atau fokus kepada keilmuan. Menguatkan fondasi keilmuan bagaikan menguatkan konstruksi bangunan. Tidak terlalu terlihat dan membutuhkan waktu yang lama. Tetapi fondasi bangunan adalah hal yang penting, karena tanpanya bangunan bisa runtuh kapan saja bila ada angin atau guncangan.
Professor Abdullah Al Fattah El-Awaisi menyimpulkan bahwa strategi awal pembebasan Baitul Maqdis adalah dengan menguatkan fondasi keilmuan. Dalam bukunya beliau menyerukan point-point berikut ini:
- Perjuangan Pembebasan Baitul Maqdis jangan disandarkan pada emosi,
melainkan harus berdasarkan fondasi ilmu dan strategi jangka panjang. Emosi dipengaruhi oleh hormonal dan tidak akan berlangsung lama. Kadang semangat dan kadang lupa atau kembali ke rutinitas biasa kita. Bergerak karena emosi juga berdasarkan tren atau bila ada trigger, bila sudah tidak tren tidak semangat lagi.
Kita tentunya sedih melihat saudara kita di Palestina dijajah sedemikan rupa oleh Zionis laknatullah. Namun rasa sedih saja tidak cukup untuk menjadikannya sumber energi atau kekuatan dalam menolong atau membebaskan saudara kita dalam cengkraman penjajahan. Bahkan kesedihan telalu mendalam membuat kita terkadang menjadi emosional dan menguras energi terlalu banyak.Kita membutuhkan fondasi ilmu dan arahan para ulama.
- Membacalah dan Allah yang Maha Kareem akan mengkaruniai kita banyak nikmat, salah satunya berupa kemenangan Baitul Maqdis
Ayat pertama yang turun adalah ayat mengenai perintah membaca. Hal tersebut menandakan pentingnya membaca. Professor Abdullah El Awaisi mencoba kembali untuk merefleksikan diri kita. Sudah seberapa banyak buku yang kita baca?... Kita mengakui bahwa kita mencintai Baitul Maqdis, namun sedihnya saat ditanya sudah seberapa banyak buku mengenai Baitul Maqdis yang kita baca, jawabannya bisa menyakitkan… Sejak awal pertama kali kita bisa membaca, berapa banyak buku tentang Baitul Maqdis yang sudah kita lahap?....
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ
اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ
عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ, Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Membaca dengan meniatkan semuanya Ikhlas hanya karena Allah Ta’ala yang telah menciptakan kita.
خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ , Dia telah menciptakanmu dari segumpal darah (عَلَق). Kita dahulu adalah segumpal darah yang hina. Kata عَلَق memiliki arti sesuatu yang menggantung. Sehingga dapat kita taddaburi kita dulu adalah makhluk yang bergantung dan kinipun kita adalah makhluk yang selalu bergantung kepada Allah.
اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَم, Bacalah dan Tuhanmulah yang Maha Mulia. Semakin kita membaca semakin bertambah Kareemnya Allah. Semakin kita banyak membaca semakin Allah karuniakan banyak nikmatnya. Disini Professor mentaddaburinya salah satu nikmatNya adalah dengan Baitul Maqdis yang merdeka. Professorpun berharap umat Islam memiliki kemampuan untuk membaca, berfikir dan menulis.
- Mengikuti nabi Muhammad saw dalam membebaskan Baitul Maqdis.
Nabi Muhammad saw selalu terpaut hatinya dengan Baitul Maqdis dan mengawali pembebasan Baitul Maqdis dengan penguatan Aqidah atau fondasi keilmuan. Nabi Muhammadpun sering memberi kabar gembira akan bebasnya Baitul Maqdis kepada para Sahabatnya. Pemberian kabar gembira ini akan menimbulkan rasa harapan dan semangat.
Setelah peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad sebelum tidur selalu membaca surat Al Isra, hal ini menambah terpautnya hati dengan Baitul Maqdis.
Cara terbaik pembebasan Baitul Maqdis adalah mengikuti orang-orang sebelumnya dalam membebaskannya, yakni mengikuti Nabi Muhammad dan para sahabatnya serta mengikuti generasi Shalahudin. Dapat kita dapati melalui sejarah, awal pembebasannya adalah dengan menguatkan fondasi keilmuan dari generasi ke generasi. Hingga akhirnya nanti setelah pembebasan pemikiran akan ada gerakan pembebasan lahan (Liberation of mind before Liberation of land). Setelah aspek keilmuan akan ada aspek politik dan militer. Semoga Allah mudahkan dan memberikan karunia terbaik melalui ditolongnya umat Islam dari musuhnya.
Alhamdulillah, mohon maaf bila ada salah dan kekurangan dalam penulisan.
اللهم إنا نسألك صلاةً في المسجد الأقصى وهو حرٌّ عزيزٌ
Sumber Referensi:
Prof Dr Abdullah Al Fattah El Awaisi, Rencana Strategis Pembebasan Mesjid Al Aqsha, 2025
Dr. Yusuf Al-Qaradhawi, Distorsi Sejarah Islam, 2005
Materi Kelas Kaidah Tadabburi Ustadz Ali Markasan, LC di Daar El Mutadabbirah
Catatan Salahudin Camp Oktober 2025, https://linktr.ee/baitulmaqdistproject
The Rise of the Assassins | The Salahuddin Generation | Ep. 1 | Dr. Hassan Elwan - YouTube
The First Crusade | The Salahuddin Generation | Ep. 2 | Dr. Hassan Elwan - YouTube


.jpg)





.png)




.jpeg)



