post-image

BERHENTI

Oleh : Naima Bibianasyifa, Mustawa 4

 

“Pada akhirnya, apa yang memang Allah gariskan untukmu, akan datang padamu meski dunia menghalanginya.”

 

Kapan kita berhenti sejenak?

Kalau ucapan ini dikatakan ke diriku lima, atau tujuh tahun lalu, jawabannya:

“Gak ada istirahat! Maju terus!”

Kehidupan bergulir begitu mudah, begitu mengalir. Masa-masa keemasan di usia emas, tak terhitung pengalaman indah dan bermakna yang didapati. Lanjut ke bangku SMA, banyak hal yang juga baru. Teman-teman baru, guru-guru baru, lingkungan baru, semua baru. Tapi ritmenya, sama. Hidup yang penuh, sibuk, dan selalu ada rencana. Gak ada istirahat, gak ada kata “berhenti”. Maju atau.. ya, kebalikannya.

Sampai masa itu tiba, ‘BAM!’

Tertolak.

Terhenti.

 

Ketika yang lain pergi, orang ini masih berdiri, di tempat yang sama, dengan ketidakpastian dan ketidaktahuan akan takdir Allah yang “Akan dibawa ke mana aku..?”

Sedih, pasti. Kesal, iya. Tapi yang menyakitkan adalah rasa bingung. Limbung. Semua teman sudah berlanjut, aku masih disini, berada tanpa tujuan. Kapalku masih tertahan jangkar, saat yang lain sudah berlabuh ke pulau. Inginnya ke sana, tapi tak ada yang menerima, lantas aku,

Kemana?

Tapi ritmenya, sama. Hidup yang penuh, sibuk, dan selalu ada rencana. Gak ada istirahat, gak ada kata “berhenti”. Maju atau.. ya, kebalikannya. Belajar lagi, usaha lagi, melahap semua, untuk menghindari rasa bingung yang ada, dan terus mengusik. Lama-lama, sesuatu memuncak. Sesuatu yang tidak disadari, atau sebenarnya tahu, tapi tidak ada waktu untuk menyelidik (atau tidak mau?). Keinginan terbesar sudah di depan mata, usaha sudah banyak, tenaga yang tercurah, gerbang sudah di depan, menunggu pengumuman, dan-

‘BAM!’

Tertolak.

Terhenti.

 

Dan rasa bingung itu, kembali lagi.

Akhirnya aku bertanya lagi dengan gadis 13 tahun itu:

“Kenapa kita gak berhenti sejenak?”

“Karena kalau mau sesuatu, usaha kita harus keras dan maksimal, jangan sampai gagal!”

“Memangnya kalau gagal, kenapa?

Dia terdiam. Tak lagi yakin, seolah rencana setelah kegagalan itu, memang tidak pernah ada. Seolah usaha yang keras itulah jaminannya. Seolah dengan usaha, pasti, pasti, pasti aku berhasil.

“Kalau gagal dan coba lagi, bisa kan?”

“Kalau gagal, coba lagi, dan terus gagal?”

“Itu tergantung kamu, dan keinginanmu. Tapi gagal itu bukan.. Aib.”

Dia tercengang, matanya macam kaca, dan sedikit tetesan air.

 

عَنْ أَبِي العَبَّاسِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُمَا قَالَ كُنْتُ: خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْماً فَقَالَ لِي: (( يَا غُلاَمُ! إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ باِللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ )) رَوَاهُ التِّرْمِذِي وَقَالَ: (( حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ ))، وَفِي رِوَايَةِ غَيْرِ التِّرْمِذِيِّ: (( اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ، تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ، وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَكَ، وَمَا أَصَابَكَ لَم يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ، وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الفَرَجَ مَعَ الكَرْبِ، وَأَنَّ مَعَ العُسْرِ يُسْراً )).

Dari Abul ‘Abbas ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Pada suatu hari aku pernah berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda, ‘Wahai anak muda! Sesungguhnya aku akan mengajarkan beberapa kalimat kepadamu. Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau mau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau mau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah. Ketahuilah apabila semua umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak bisa memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka pun berkumpul untuk menimpakan bahaya kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak dapat membahayakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena-pena (pencatat takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran (catatan takdir) telah kering.’” (HR. Tirmidzi, dan ia berkata bahwa hadits ini hasan shahih).

 

Dan dia, mulai menangis. Emosinya bergejolak, dunianya digoncang.

“Tapi aku tidak suka gagal!”

 

كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌۭ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ خَيْرٌۭ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ شَرٌّۭ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ ٢١٦

"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216)

Maka padanya, aku berpesan:

“Kamu terlalu sibuk dengan usaha, sibuk dengan upaya. Tapi kamu lupa, soal syukur. Mensyukuri, dan menjaga yang ada, yang kamu punya dan keadaanmu. Lihatlah, dari sekian banyak kawan, Allah pilih kamu di jalan ilmu, yang membawa pada kedekatan pada-Nya, yang memudahkan kamu untuk mendapat cinta-Nya, yang menaikkan derajat dirimu dari orang lain di sisi-Nya, lantas apa yang kurang?”

“Jagalah Allah, maka Allah akan menjagamu. Ingatlah Allah di saat senang, maka Allah akan ingat denganmu di masa sulit. Minta pada-Nya; dengan rasa takut dan harap yang besar, menangis dan memohon adalah senjata seorang hamba pada Rabbnya yang Maha Pengasih dan Pemberi dan Maha Mengabulkan. Kamu bisa usaha sekeras-kerasnya, mati-matian dalam belajar, tapi kalau belum takdirnya, belum waktunya, kita bisa apa?

Dia terdiam, namun mata merahnya yang sembab melihatku, mendengarkan.

“Cari Allah, cari ridha Allah, cari cara agar Allah kabulkan. Baru, kamu usaha. Yang keras, kayak dari dulu.”

Dia tersenyum, menghapus sisa air mata itu. Dengan keheningan yang tenang, aku mengantarnya sampai gerbang sekolah. Dia menengok, mengangkat tangan dan melambai-lambai.


Aku pun membalas, dengan gerakan yang sama, dan senyum yang lebih jujur,  sebelum kembali ke duniaku yang sekarang.