
Dari Al Ism Kita Belajar ...
Oleh : Setia R Sakinah, Mustawa 2
Dari Al Ism Kita Belajar ...
Seperti kita ketahui bahwa di dalam bahasa Arab, terdapat 3 (tiga) jenis kata; Ism, Fi'l dan Harf.
Dari ketiga jenis kata ini, Ism merupakan jenis kata terbanyak dibandingkan dua jenis kata lainnya.
Bagaimana tidak, jika kita merujuk pada kaidah ilmu sharaf maka dari satu Mashdar kita bisa tashrif ke berbagai bentuk ism yang berbeda, tidak terbatas pada bentuk ism musytaq yang sepuluh yang masing-masing memiliki beberapa wazn berbeda, tapi kita bisa rubah ke bentuk ism berdasarkan dhamirnya (tashrif lughawi). Begitupun dalam ilmu nahwu kita mengenal pembagian ism menurut bilangannya kita bisa merubah ism dari bentuk mufrad, ke bentuk mutsanna atau jamak yang juga berbeda bentuknya sesuai kedudukannya dalam kalimat apakah dia marfu, manshub atau majrur.
Apabila kita refleksikan pada kondisi umat muslim saat ini, secara kuantitas, maka muslimin saat ini bagaikan Ism yang mendominasi jumlah penduduk dunia ini, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ dalam riwayat Abu Daud, namun sayangnya, dengan kualitas yang jauh daripada yang semestinya.
“Akan datang suatu masa di mana musuh-musuh (bersatu-padu dan) berlomba-lomba untuk memerangi kalian. Sebagaimana berebutnya orang-orang yang sedang menyantap makanan di atas nampan”. Salah seorang sahabat bertanya, “Apakah karena saat itu jumlah kami sedikit?”. Beliau menjawab, “Justru saat itu kalian banyak, namun kalian bagaikan buih di lautan. Allah akan membuang rasa takut mereka kepada kalian, dan akan memasukkan wahn di dalam hati kalian. “Apakah wahn itu wahai Rasul?” tanya salah satu sahabat. Beliau menjawab, “Cinta dunia dan benci kematian”…
(HR. Imam Abu Dawud dari Tsauban dan dinilai sahih oleh Syaikh al-Albani).
Adalah PR besar bagi umat saat ini untuk memperbaiki kualitas diri setiap muslim dan muslimah. Dan sebagai muslimah pembelajar bahasa arab, dari ism ini kita bisa belajar beberapa hal:
Pertama, mari kita lihat definisi Ism berikut ini:
الاسم هو كلمة دلّت على معنى في نفسه ولم تقترن بزمن
Ism adalah kata yang memiliki makna pada dirinya dan tidak berhubungan dengan waktu. Satu variabel yang membedakan ism dengan jenis kata lainnya adalah bahwa ia tidak terikat dengan waktu; pada masa lampau, saat ini dan masa yang akan datang, makna sebuah ism akan tetap sama. Makna طفل baik dari dulu sampai sekarang tetap artinya anak laki-laki dan tidak akan berubah menjadi makna yang lain di masa depan.
Maka dari sini kita belajar setidaknya dua hal, tentang istiqamah dalam beriman kepada Allah dan tidak menjadikan waktu sebagai batasan dan alasan untuk berhenti belajar, bertumbuh dan berkembang, tidak mengenal kata terlambat untuk terus menjadi hamba Allah yang lebih baik dari hari ke hari, menjadi pribadi muslim yang sesuai tuntunan Allah dan Rasulnya.
Kedua, jika kita melihat posisi ism dalam kalimat, maka ism menjadi variabel paling penting dalam pembentukan sebuah kalimat sempurna (jumlah mufidah). Tidak akan terbentuk kalimat sempurna tanpa kehadiran ism di dalamnya baik itu dalam jumlah ismiyah maupun dalam jumlah fi'liyyah.
Begitupun dengan kita, sebagai muslim/muslimah, sepatutnya keberadaan kita mampu menggenapi sekitarnya, dengan kebaikan dan kebermanfaatan yang kita bagikan di lingkungan dimana kita berada, sehingga meraka akan merasakan keganjilan atas ketidakhadiran kita.
Disebutkan dalam sebuah riwayat dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah ﷺ bersabda,
المؤْمِنُ يَأْلَفُ وَيُؤْلَفُ وَلاَ خَيْرَ فِيْمَنْ لاَ يَأْلَفُ وَلاَ يُؤْلَفُ وَخَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Seorang mukmin itu adalah orang yang bisa menerima dan diterima orang lain, dan tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak bisa menerima dan tidak bisa diterima orang lain. Dan sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Awsath, no. 5949).
Dalam jumlah ismiyah, sebagaimana namanya, maka jenis kalimat ini sudah pasti tersusun atas minimal dua ism yang berkedudukan sebagai mubtada dan khabar, sehingga tidak akan ada jumlah ismiyyah tanpa ism. Namun, uniknya jumlah ismiyyah bisa tersusun hanya dengan satu jenis kata yaitu ism, tanpa bantuan fi'l atau harf ia bisa menjadi kalimat sempurna yang memberikan faidah.
Sama halnya dengan kita saat ini, seorang muslim yang berusaha untuk taat pada setiap aturan syariat di zaman ini, tidak jarang dianggap aneh kemudian kehilangan teman, komunitas, bahkan mungkin kita sendiri yang harus mulai memfilter pertemanan demi tetap teguh berada dalam syariat islam walaupun menjadi terasing dan sendirian.
Nabi ﷺ bersabda:
فطوبى للغرباء
“Maka beruntunglah bagi orang-orang yang asing” (HR. Muslim).
dan dalam riwayat yang lain :
قيل يا رسول الله ومن الغرباء؟ فقال: الذين يصلحون إذا فسد الناس
Rasulullah- Shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya “wahai rasulullah siapa yang asing itu (al-Ghuraba)?” Rasulullah- Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Yaitu orang-orang yang mengadakan perbaikan di tengah manusia yang berbuat kerusakan”.
Adapun dalam jumlah fi'liyyah, posisi ism tidak kalah penting bagi eksistensi fi'l karena hakikatnya di dalam sebua fi'l terkandung ism, sekalipun keberadaannya mustatir, sebab tidak mungkin terjadi sebuah aktivitas (fi'l) tanpa adanya pelaku (fa'il) yang mana jenis kata yang berkedudukan sebagai fail ini berasal dari golongan ism.
Dari sudut pandang ini, sebagai muslim, maka kita adalah subjek atau pelaku; pelaku perubahan (agent of change), pelaku kebaikan yang pantas diteladani baik dari ucapan dan perbuatan dan pelaku yang bahu membahu mencegah kemungkaran. Sebagaimana yang disebutkan di dalam Al-Qur’an, Allah ﷻ berfirman:
وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: [2]: 104).
Ketiga, Seperti mashdar
Menurut madzhab Bashrah (berbeda dengan madzhab Kuffah yang berpendapat bahwa akar kata itu adalah Fi'l) mashdar merupakan akar kata atau kata dasar di dalam bahasa Arab, yang darinya lahir ribuan kata turunan dengan berbagai macam bentuknya, sebagaimana yang telah disinggung di poin pertama. Sebagaimana Mashdar, Islam pernah menjadi Pusat Peradaban Dunia berabad-abad lamanya, dimana ilmu pengetahuan, kebudayaan dan dimensi kehidupan lain yang mengakar di dalamnya.
Semoga belajar bahasa Arab di Ma'had Al Ashr Adz Dzahabi ini jadi langkah kita. Langkah untuk menyongsong kembali era keemasan umat, InsyaAllah. Karena bagusnya bahasa adalah kunci agama.




.jpg)




.png)



.jpeg)





.png)
