post-image

MENERAPKAN HIDUP SEDERHANA DENGAN MENELADANI NABI AGAR TERHINDAR DARI HUTANG PIUTANG

Oleh : Tuti Alawiyah, Mustawa Tsani

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala Puji bagi Allah ﷻ Tuhan Semesta Alam. Semoga Rahmat dan keselamatan tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ beserta keluarga, sahabatnya dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

Allah ﷻ menciptakan manusia sebagai mahkluk yang sempurna, dikarunia akal fikiran dan kemampuan memilih apa yang terbaik dalam hidupnya. Allah ﷻ juga memberi kemampuan kepada manusia untuk menyerap segala pengetahuan dan ketrampilan yang berguna dalam menjalani perannya sebagai khalifah di muka bumi. Allah ﷻ juga menyediakan alam beserta isinya sebagai sarana bagi manusia untuk mencari nafkah dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Disamping itu Allah ﷻ menciptakan manusia sebagai mahluk sosial yang saling kenal mengenal, saling membutuhkan dan saling tolong menolong.

Dalam perannya sebagai mahluk sosial, manusia  berinteraksi dalam lingkungan keluarga, teman dan masyarakat. Dalam situasi ini,  seringkali manusia dihadapkan dengan penilaian terhadap kondisi  keluarga dan status sosialnya. Keberadaannya  dinilai dengan apa yang dimiliki dari sisi materi, bukan hanya dinilai dari adab dan akhlaknya. Hal ini menyebabkan banyak dari kita terdorong untuk memiliki sesuatu yang sebenarnya diluar kemampuan. Fenomena sekarang ini banyaknya orang yang tergoda membeli barang secara konsumtif tanpa memikirkan batas kemampuannya. Hal ini ditunjang dengan kehadiran media sosial dan e-commerce yang menawarkan barang-barang dengan berbagai kemudahan dalam  pembeliannya, mulai dari rumah, kendaraan hingga barang barang kebutuhan rumah tangga dan barang barang penunjang penampilan. Banyak orang yang  bekerja keras untuk mencari nafkah dan pada  akhirnya mengeluarkan hartanya hanya  untuk membeli barang-barang konsumtif. Sehingga penghasilan yang didapat sering terasa kurang, yang menyebabkan banyak orang  terjebak dalam transaksi hutang piutang.  Hal ini dimudahkan dengan munculnya  plat form-plat form situs pinjaman online yang beriklan melalui handphone atau bekerjasama dengan perusahaan penjual barang dan e-commerce dengan menggunakan sistem riba. Fenomena ini pun terjadi dikalangan umat Islam. Banyak umat Islam terjebak melakukan transaksi hutang piutang dengan cara riba. Padahal sudah jelas larangan Allah ﷻ terhadap riba yang tertulis di dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 275,

وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلْبَيْعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰا۟ ۚ

“Allah telah menghalalkan jual beli  dan mengharamkan riba.”

Dalam ayat selanjutnya Allah berfirman :

يَمْحَقُ اللّٰهُ الرِّبٰوا وَيُرْبِى الصَّدَقٰتِۗ وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ اَثِيْمٍ

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam  kekafiran dan selalu berbuat dosa .”  

Ibnu Katsir menerangkan bahwa Allah ﷻ akan menghilangkan keseluruhan harta dari tangan pemiliknya (pelaku riba) atau mengharamkan pemiliknya untuk mendapat keberkahan atas hartanya. Dalam hadits Nabi ﷺ juga menyebutkan “Barang siapa yang mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya {di hari kiamat nanti} karena disana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham (HR.Ibnu Majah No.2414 ). Itulah keadaan orang yang mati dalam keadaan masih membawa hutang dan belum juga dilunasi, maka untuk membayarnya akan diambil dari pahala kebaikannya karena tidak ada lagi dinar dan dirham untuk melunasi hutang tersebut.

Oleh karena itu sudah sepatutnya bagi umat Islam untuk kembali ke dalam pola hidup sederhana. Karena hidup sederhana adalah prinsip penting dalam Islam yang membantu seorang muslim menjauhi hutang piutang, menjaga keseimbangan hidup dan memperoleh keberkahan. Dengan hidup sederhana, seorang muslim lebih bersyukur dan tidak terjebak dengan gaya hidup konsumtif. Dengan terbiasa hidup sederhana, keinginan akan hal-hal yang diluar kemampuan  dapat dihindari termasuk keinginan berhutang. Sehingga seorang muslim bisa hidup tenang dalam kesehariannya dan dalam menjalankan ibadah.

Hidup sederhana merupakan akhlak terpuji yang dicontohkan Nabi Muhammad ﷺ.  Semasa hidupnya, Nabi Muhammad ﷺ selalu mencontohkan hidup sederhana. Padahal jika beliau menghendaki akan mudah baginya untuk hidup bermewah-mewahan.

Ketika di Madinah, Nabi ﷺ selain menjadi pemimpin umat Islam, juga menjadi pemimpin negara bagi seluruh masyarakat Madinah. Akan tetrapi dalam kesehariannya, Nabi ﷺ memilih hidup sederhana tanpa dipenuhi kekayaan seperti kehidupan raja-raja. Zaid bin Tsabit bertutur “Anas bin Malik pelayan Rasulullah ﷺ pernah memperlihatkan kepadaku tempat minum Rosulullah ﷺ yang terbuat dari kayu yang keras dan dipatri dengan besi. Kemudian Anas berkata kepadaku, “Wahai Tsabit, inilah tempat minum Rasulullah. Dengan gelas kayu inilah Rasulullah minum air perasan kurma, madu dan susu.” (HR Tirmidzi). Betapa sederhananya hidup beliau, jika kita berkunjung ke Masjid Nabawi di kota Madinah pun, kita dapat melihat betapa sederhananyan tempat tinggal Nabi ﷺ. Dalam hadits lain, Aisyah رضي الله عنها menuturkan batapa Rasulullah ﷺ hidup dengan sangat zuhud, hanya mempunyai 2 baju dan tidur di atas daun pelepah kurma. Rasulullah ﷺ juga menerapkan sikap tidak pernah khawatir dengan sesuatu yang akan dimakannya besok. Rasulullah ﷺ mengajarkan untuk senantiasa bersyukur dengan segala sesuatu yang didapatkan hari ini. Beliau bersabda “Siapa diantara kalian yang berada di waktu pagi dalam keadaan aman di tempat tinggalnya, sehat jasmaninya, dan memiliki makan untuk hari itu maka seakan-akan seluruh dunia ini telah diberikan padanya.” (HR Ibnu Majah No.4141). Selain hidup sederhana, Rasulullah ﷺ juga gemar bersedekah, menyantuni kaum miskin dan anak yatim.

Hidup sederhana dalam Islam adalah akhlak mulia yang mengajarkan untuk tidak berlebihan dalam membelanjakan harta. Memfokuskan diri dalam beribadah kepada Allah ﷻ serta Menafkahkan sebagian rizki di jalan Allah, karena kehidupan yang hakiki adalah kehidupan akhirat seperti sabda Nabi ﷺ, “Perumpamaan hubunganku dengan dunia adalah seperti seorang musafir yang berlindung sejenak dibawah pohon, kemudian ia pergi meninggalkannya.” (Hadis Hassan 2377 AhmadTirmidzi dan ibnu Majah).

Sebagai penutup, marilah  kita mulai  hidup sederhana sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad ﷺ.  Menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari dengan cara bersyukur terhadap apa yang dimiliki dan merasa cukup dengan rizki yang Allah berikan (bersikap qona’ah). Memaksimalkan harta dan kemampuan yang Allah berikan untuk beribadah di jalan Allah. Fokus pada persiapan kehidupan akhirat karena ke sanalah tempat kita berpulang. والله أعلم بالصواب